Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Minggu, 30 Oktober 2011

Kotoran Kelelawar Tak Sekotor Potensi Bisnisnya

alt

Kita acap tak peduli pada nilai kotoran hewan. Padahal, kandungan senyawa organik yang ada pada kotoran itu bisa diolah menjadi pupuk. Seperti kotoran kelelawar yang hidup di dalam gua bisa menjadi pupuk yang menggantikan peran pupuk kimia, seperti urea dan NPK.
Biarpun merupakan sisa pencernaan, sejumlah kotoran hewan justru bermanfaat. Bahkan, kotoran itu memiliki nilai ekonomi tinggi, hingga bisa mendatangkan rupiah. Seperti kotoran hewan lainnya, salah satu kotoran hewan yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk adalah kotoran kelelawar.

Kotoran mamalia yang bisa terbang ini, khususnya yang hidup di gua-gua, mengandung senyawa organik, seperti nitrogen, fosfor, dan potasium yang sangat bagus untuk mendukung pertumbuhan, merangsang akar, pembungaan, serta memperkuat batang tanaman.

Adalah Adi Nugraha, pemilik Nusa Palapa Group yang mencoba berbisnis di pupuk dari kotoran kelelawar. Sejak dua tahun lalu, ia memproduksi pupuk dari kotoran kelelawar.

Adi mengambil bahan baku, kotoran kelelawar dari gua-gua di sepanjang pesisir selatan Jawa Tengah, seperti Cilacap, Kebumen dan Nusa Kambangan. "Kami tidak mengambil kotoran kelelawar yang hidup di rumah-rumah tetapi kelelawar yang tinggal di gua-gua," kata Adi.

Alasannya, kotoran kelelawar yang di rumah-rumah kadar asamnya cukup tinggi. Berbeda dengan kelelawar yang hidup di gua, karena kotoran ini bercampur dengan zat kapur yang ada di dalam gua tersebut.

Cara pembuatan pun relatif mudah. Adi tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli alat. Setelah mengambil kotoran kelelawar di gua, Adi lantas menjemurnya. Setelah dijemur, kotoran kelelawar diayak supaya gumpalan kotoran itu terpecah menjadi butiran. Selesai proses tersebut, sampailah pada tahap fermentasi dengan menambahkan bakteri.

Permintaan pupuk kotoran kelelawar ini pun terus bertambah setiap tahun. Maklum, harga pupuk jenis ini lebih ekonomis. Selain itu, pupuk kotoran kelelawar bisa menggantikan pupuk kimia lainnya, seperti NPK dan urea. Harga per kilogram pupuk NPK mencapai Rp 10.000, sementara Adi menjual kotoran kelelawar dengan harga Rp 7.500 per kilogram.

Hanya saja, produksi pupuk ini sangat terbatas. Pasalnya, bahan baku pupuk sangat tergantung dari kotoran yang tersedia di dalam gua. Jika kemarau tiba, ia hanya memproduksi pupuk kotoran kelelawar dalam jumlah sedikit. Sebaliknya, bila musim hujan datang, bahan baku pun berlimpah. "Jika dipukul rata, produksi kami ton per bulan," kata Adi. Alhasil, setiap bulannya, Adi meraup omzet sekitar Rp 7,5 juta.

Selain untuk petani lokal, Adi juga menjual pupuk berbagai perkebunan. Sayang, pemasaran masih terbatas di wilayah Jawa Tengah.

Setali tiga uang dengan Adi, Mochammad Maulana, pemilik CV Gunung Mas Gresik juga menggarap bisnis pupuk kotoran kelelawar. Pria yang memiliki panggilan akrab Maulana ini mendapatkan kotoran kelelawar dari beberapa gua di gugusan perbukitan yang ada di kawasan Punggungan Merkawang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga delapan kuintal pupuk kotoran kelelawar. Dus, dalam satu bulan ia bisa menghasilkan hingga 2,4 ton pupuk. Maulana mengaku, dalam sebulan bisa mengantongi omzet penjualan pupuk Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.


(sumber : kontan online)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar